Berita Bola

Sinar Cerah Djanur Bersama PSMS Medan

Djanur

Pelatih yang akrab dipanggil Djanur ini merupakan sosok yang sangat dekat dengan Persib. Tidak salah jika mengatakan bahwa dia adalah legenda Persib. Djanur berhasil membawa Persib meraih gelar Liga Super Indonesia musim 2014 setelah Maung Bandung puasa gelar nyaris 2 dekade. Tidak heran, namanya sangat harum ditelinga para suporter Persib. Dia merupakan legenda yangakan selalu dihormati dan dicintai oleh Bobotoh.

Selepas berhasil mengantarkan Persib juara di LSI 2014, Piala Walikota Padang 2015, dan Piala Presiden 2015, karir Djanur kemudian meredup ada tahun 2017 lalu. Momen tersebut jatuh saat Persib mengikuti kompetisi Liga 1 2017.

Menangani tim yang penuh bintang kala itu, tak langsung membuat Djanur bisa meramu strategi serta memenangkan setiap laga. Djanur tak dapat menjawab haraan banyak pihak, yang sangat tinggi untuk Persib.

Sampai pada pertengahan Juli 2017, dia memutuskan mundur dari jabatan pelatih. Dia mundur saat Maung Bandung gagal menang atas Mitra Kukar. Yang jelas penyebab mundur lantaran dia sudah tak bisa mengantarkan Persib ke level teratas.

Memilih mundur dari Persib tak langsung membuat karirnya berhenti. Akhirnya Djanur bergabung dengan PSMS Medan yang kala itu masih berlaga di kasta kedua sepakbola Indonesia.

Bersama PSMS, Djanur sepertinya bisa menemukan kembali sinarnya yang pernah meredup saat masih bersama Persib. Di Medan, dia sukses menghidupkan banyak ekspetasi. Misalnya saja harapan PSMS kembali lagi ke kasta tertinggi Indonesia. Dan dengan ekspetasi pribadinya untuk dapat kembali memberikan bukti baha dirinya masih mampu meraih prestasi.

Memang benar, harapan tersebut pelan-pelan terwujud. PSMS akhirnya sukses kembali ke kasta teratas sepakbola Indonesia. Walaupun PSMS hanya mampu finis di posisi runner up selepas kalah melawan Persebaya Surabaya.

Yang jelas, keberhasilan PSMS melakukan promosi ke ajang Lia 1 tak semata-mata lantaran peran Djanur. Terlebih lagi Djanur tak melatih PSMS semenjak dimulainya Liga 2. Tapi perlu diingat bahwa Djanur yang jadi peramu strategi saat PSMS ada di fase yang krusial.

Apalagi, pada babak semi-final Liga 2, mereka bersaing dengan beberapa klub besar. Martapura FC, PSIS, dan Perebaya tentunya bukan lawan yang mudah. PSMS dapat saja tersisih dari posisi 3 besar. Tapi Djanur bukan pelatih kroco. Dan ada fase tersebut dia bisa membuktikan kalau dirinya masih mampu meraih prestasi untuk PSMS.

Bila Djanur bisa mengantarkan PSMS merengkuh gelar Piala Presiden musim ini, tentunya sinar terang Djanur bakal semakin terang.  Dia akan menorehkan sejarah untuk timnya.

Tak hanya itu saja, dia juga bakal mencatatkan prestasi pribadi pada Piala Presiden ini untuk kali kedua. Menyusul di Piala Presiden musim 2015 dia mengangkat gelar bersama Persib.

Comment here