Berita Bola

Burak Karan, mantan Timnas Muda Jerman Yang Bergabung Ke Isis

Burak Karan

Di awal tahun 2000-an, dia bergabung dengan timnas usia muda Jerman denganSami Khedira da Kevin Prince Boateng. Akan tetapi, dia awal tahun 2010-an, dia bergabung bersama organisasi ekstrim, ISIS. Berikut adalah kisah singkat mengenai Burak Kanan, mantan pemain sepakbola Jerman yang ikut terbunuh di tahun 2013 silam.

5 tahun yang lalu, kisah mengejutkan ini tterkuak. Karan merupakan mantan pemain timnas Jerman usia muda, dia juga sempat mewakili negaranya pada umur U16 serta U17. Dia baru diketahui menjadi mantan pesepakbola profesional saat teridentifikasi meninggal di kawasan Azaz, sebelah barat laut Aleppo, Suriah. Dengan pasukan ISIS, Karan ikut berperang menghadapi tentara loyalis dari Bashir Al Aasad pada perbatasan Suriah-Turki saat markas Isis dibombardir angkatan udara milik Suriah.

Lahir pada 12 September 1988, Karan juga dikenal sebagai pemain sepakbola semenjak usianya yang masih sangat muda. Bermain menjadi bek di akademi milik Bayer Leverkusen, performanya berujung panggila ke timnas usia muda Jerman. Kala itu dia satu tim dengan beberapa pemain yang kini terkenal, diantaranya adalah Dennis Aogo, Kevin Prince Boateng dan Sami Khedira.

Kemudian Karan berpindah ke beberapa akademi seperti Hannover 96, Hamburg SV, Hertha Berlin sebelum dia pada akhirnya bergabung ke Alemania Aachen. Akan tetapu, cedera langsung menghancurkan karir awalnya yang cukup menjanjikan.

Meskipun mempunyai berbagai keunggulan teknis guna menjadi bek yang sukses dalam level senior, Kara pun mendapat cedera ligamen ketika usianya masih sangat muda, yakni 19 tahun.

Dari saat itulah Karan mulai mengembangkan minat barunya dalam dunia ekstremisme. Pria yang memiliki darah Suriah tersebut tertarikkepada konsip jihad serta mendalami beberapa konflik militer yang terjadi di kawadan Asia Tengah dan Timur Tengah. Karan kemudian tenggelam dalam pikiran islam radikal, sampai dia memutuskan untuk sepenuh hati berhenti dari dunia sepakbola pada umur 20 tahun.

Di umur awal kepala dua tersebut, Karan kemudian membatalkan kontraknya bersama Alemania Aachen. Dengan menggunakan nama baru, yakni ‘Abu Abdullah al Turki’, Karan alu mengajak istrinya serta kedua buah hatinya untuk pindah menuju Afrika Utara. Disana, dia bergabung bersama kelompok jihad yang teah mempesiapkan para ‘pejuang’ guna bergabung dengan orang ekstremis di beberapa zona perang. Salah satunya ialah tanah nenek moyangnya, Suriah.

Keterlibatan Karan dimulai ketika ia mulai mengirimkan makanan serta obat-obatan menuju Suriah. Mustapha Karan selaku sang kakak, lewat wawancara dengan Bild mengataka, “Burak berkata pada saya kalau uang serta karir sepakbola tak penting lagi untuknya. Dia menjadi berbeda serta mulai menonton banyak video tentang perang.”

Mustapha kaget saat pengeboman ddi markas ISIS berdampak dengan terkuaknya fakta hubungan adiknya bersama ISIS dan juga Al-Qaeda.

Comment here